Hukum Perkawinan Adat

Hukum Perkawinan Adat Minangkabau

Hukum Perkawinan Adat yang Matrilineal

Dalam hukum perkawinan adat minangkabau terdapat suatu ketentuan dimana orang Minang dilarang kawin dengan orang dari suku yang serumpun. Suku serumpun yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah serumpun menurut garis keturunan ibu. Hal ini disebabkan karena sistem kekerabatan yang berlaku dalam adat minangkabau adalah sistem matrilineal.

Dalam hukum perkawinan adat berdasarkan sistem kekerabatan matrilineal, suatu perkawinan tidak menyebabkan laki-laki langsung masuk menjadi bagian dari keluarga perempuan. Seorang suami tetap merupakan bagian dari keluarganya sendiri, namun anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut mengikuti garis keturunan istri. Inilah yang berlaku dalam hukum perkawinan adat minangkabau.

Terdapat 3 ciri penting dalam sistem kekerabatan matrilineal, yaitu garis keturunan menurut ibu, perkawinan adat hanya dapat dilaksanakan dengan pasangan dari rumpun lainnya, dan seorang ibu memegang peranan penting dalam keluarga termasuk urusan pendidikan dan kesejahteraan keluarga.

Seorang perempuan dalam sistem kekerabatan matrilineal berhak untuk melarang atau menolak keputusan yang ditetapkan tanpa sepengetahuannya. Perempuan juga memiliki hak dalam rapat-rapat keluarga, sehingga mereka berhak mengusulkan dan menyarankan serta berpendapat dalam suatu rapat, baik itu rapat keluarga, rapat kaum dan nagari. Selain itu, perempuan juga telah mendapat tempat dalam organisasi Kerapatan Adat Nagari, sehingga kedudukan perempuan di tengah masyarakat adat Minangkabau menjadi sangat kokoh dan penting.

Hukum Perkawinan Adat Minangkabau

Seorang suami dalam hukum perkawinan adat minangkabau dikenal dengan sebutan â??marapulaiâ?. Hukum perkawinan adat minangkabau juga menetapkan bahwa marapulai atau suami menetap atau bermukim di sekitar pusat kediaman kaum kerabat istrinya.

Seorang suami merupakan pendatang dan dianggap sebagai tamu yang terhormat dalam keluarga istrinya. Itulah sebabnya, dalam hukum perkawinan adat minangkabau, seorang lelaki yang akan menikah juga berarti bersiap untuk meninggalkan lingkungannya dan meninggalkan kerabat-kerabatnya. Lelaki tersebut harus bersiap untuk hidup bersama dengan istrinya dan tinggal bersama atau dekat dengan keluarga dan kerabat istrinya.

Oleh karena itulah, dalam hukum perkawinan adat minangkabau, dikenal suatu prosesi pernikahan yang disebut dengan turun janjang. Dalam perkawinan adat minangkabau, seorang laki akan dijemput secara adat oleh perempuan dan keluarga laki-laki akan ikut pula mengantarnya secara adat. Setelah perkawinan tersebut, lelaki resmi menetap di kediaman atau dilingkungan keluarga dan kerabat istrinya.

Hukum-Perkawinan-Adat

Apabila suatu saat terjadi perceraian, maka lelaki atau suami harus pergi meninggalkan rumah tersebut, sedangkan istri tetap tinggal bersama dengan anak-anak yang lahir dari hubungan perkawinan tersebut.

Demikian artikel mengenai hukum perkawinan adat minangkabau semoga bermanfaat bagi kita semua.

Advertisement

No comments.

Komentar terhadap "Hukum Perkawinan Adat"